Ride to Ciwidey (1)
17/01/2009 at 21:24 Tinggalkan komentar

Setelah menanti selama setahun akhirnya perjalanan ke Kawah Putih – Ciwedey terwujud juga. Pada hari Senin – Selasa (12-13 Januari 2009) yang lalu perjalanan Jakarta – Ciwidey – Bandung – Jakarta itu pun dilakukan dengan melahap lebih kurang jarak 500 Km. Perjalanan kali ini saya lakukan sendirian tanpa boncengers, dan tepat pada pukul 06.00 Wib ban pun bergerak menuju Ciwidey…………………………………………….
Mendung sudah mengelayuti Jakarta pagi itu, namun perjalanan sangat lancar sekali. Hingga begitu memasuki Kota Bogor, awan pun tak kuasa menahan hujan untuk tidak turun dulu. Motor pun ditepikan sejenak, guna mempersilahkan saya untuk menggunakan jas hujan. Setelah mengenakan jas hujan perjalanan pun dilanjutkan………….
Sesampainya di Masjid At-Tawawun – Puncak, motor saya tepikan kembali, saat itu cuaca masih kurang bersahabat. Dinginnya udara tidak bias membendung keinginan saya untuk menikmati segelas Capucino panas. sambil menikmati Capucino yang mengeluarkan asap di permukaannya, saya pun menyempatkan dulu untuk menghubungi Istri dan beberapa teman di kantor. Selesai menikmati secangkir Capucino perjalanan kembali dilanjutkan………..

Dinginnya suasana saat itu cukup menusuk-nusuk menembus jaket tebal yang saya kenakan. Cuaca dirasa mulai bersahabat begitu memasuki kota Cianjur. Makanya saya baru bisa melepaskan Jas Hujan selepas kota Cianjur, sekaligus istirahat dan menikmati pemandangan indah di sekitaran komplek latihan TNI AD.
Perjalanan saya lanjutkan kembali, langsung menuju Ciwidey……….! Sebelum memasuki kota Cimahi saya membelokkan motor ke kanan di sana tertera petunjuk jalan menuju Soreang. Ternyata saya memasuki wilayah Kopasuss – Batujajar – Bandung. Di jalan ini saya menyempatkan dulu untuk mengisi BBM, takut-takut nantinya susah mencari POM Bensin. Kondisi jalannya cukup bagus hanya sekali menemukan pasar yang tidak begitu ramai, paling-paling beberapa angkot saja yang membuat perjalanan sedikit tersendat akbat berhenti seenaknya. Langit mulai kembali mendung, nampaknya hujan akan kembali menemani perjalanan ini. Benar saja baru beberapa kilometer berjalan hujan kembali turun, saya pun kembali menepi. Karena merasa sudah dekat dengan tujuan saya (Ciwidey) maka kesempatan ini saya gunakan untuk menghubungi istri, karena dari beberapa informasi yang saya dapatkan tidak ada satu operator ponsel pun yang menjangkau kawasan Kawah Putih, artinya sinyal ponsel dipastikan drop serendah-rendahnya – alias koit.

Perjalanan relatif lancar, hingga memasuki kawasan Soreang, terus naik ke atas hingga akhirnya saya memasuki kota Ciwidey. Sedikit bertanya agar tidak sesat dijalan tentu lebih baik, ternyata kawasan wisata ciwedey terus naik ke atas. Sebuah spanduk yang memanjang membelah jalan menunjukkan saya telah memasuki kawasan wisata Ciwidey. Kiri-kanan jalan telah berubah tidak ada lagi bangunan, yang ada rentetan pohon-pohon besar yang menghiasi jalan perbukitan itu. Tidak begitu jauh hanya sekitar satu kilometer saja saya telah sampai di depan gerbang Kawah Putih yang berada di sisi sebelah kanan jalan. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp. 10.000,- motor pun meluncur naik ke atas. Jalanan menuju kawasan cukup terjal menanjak, di beberapa bagian terdapat anjuran untuk menggunakan gigi satu. Sebuah rombongan yang mengunakan mobil di depan saya sempat meluncur karena tidak kuat menanjak. Jaraknya tidak begitu jauh dari gerbang masuk, hanya sekitar 5 Km saja, Cuma karena jalannya yang menanjak hingga menyulitkan kendaraan melaluinya.

Akhirnya saya pun sampai di tempat tujuan wisata Kawah Putih. Lahan parkir yang tersedia cukup luas ada beberapa warung yang menyediakan makanan dan minuman hingga cinderamata. Untuk menuju Kawah, kita harus menaiki dulu beberapa anak tangga yang tidak terlalu tinggi. Kemudian dari kejauhan sebelum menuruni anak tangga lagi terlihatlah sebuah panorama indah berwarna hijau yang di selimuti kabut, Subhanallah……., alangkah indahnya panorama Kawah Putih.

Tangan ini begitu gatalnya untuk segera mengabadikan panorama ini, sebuah Camdig yang terselempang di bahu pun dikeluarkan, bak seorang Cowboy mengeluarkan senjata dari sarungnya. Jeprat-jepret……….. puas mengabadikan sebuah panorama alam nan indah yang ditemukan oleh DR. Franz Junghuhn ini.


Mungkin keindahannya sedikit berkurang karena kabut tebal menyelimuti Puncak Patuha. Namun pesonanya tetap kuat dirasa meski udara dingin benar-benar mengusik badan. Pasir putihnya yang membentang dihiasi pohon-pohon yang memiliki ranting-ranting indah menambah kecantikan dari kawah ini. Pantaslah bila daerah ini sering diincar menjadi lokasi pemotretan Pre Wed bagi sepasang insan yang akan menikah. Dan wajar pula bila kawasan ini di sebut sebgai Negeri di Awan visualisasi dari lagunya Katon Bagaskara.


Ride to Ciwidey masih berlanjut ke Situ Patenggang……….
Entry filed under: West Java. Tags: Kawah Putih.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed